SWA.co.id January, 5, 2015, by Aulia Dhetira

Jajanan pasar merupakan makanan Indonesia yang meski mulai menghilang tetapi tetap banyak dicari orang. Pada dasarnya orang Indonesia senang dengan penganan manis dan gorengan, meskipun kini mulai banyak tren hidup sehat yang dijalankan orang Indonesia, jajanan pasar tetap menjadi primadona. Hal ini dibuktikan Paulina Pungky Purnowati yang berhasil membuka dua toko jajanan pasar dengan nama Bekal dari Ibu dalam waktu kurang dari dua tahun. Toko yang pertama berada di Mall Kota Kasablanca dan dibuka 22 November 2014 dan satu minggu setelahnya, dibuka toko kedua di Mall Pacific Place.

“Di tengah serbuan makanan luar dan healthy food, jajanan pasar seperti ini sebenarnya banyak yang mencari. Bahkan salah seorang teman pernah bertanya mengenai keseriusan saya dengan bisnis ini, ditengah maraknya gaya hidup sehat, sementara jajanan pasar sarat dengan makanan gorengan dan tidak sehat lainnya. Namun pada kenyataanya, market kita pun sama dengan market makanan luar dan healthy food. Ini membuktikan bahwa orang Indonesia tetap mencintai makanan Indonesia,” jelas Paulina.

Bisnis rupanya telah menjadi passion dan darah dagingnya, setelah 10 tahun berkarier di dunia manajemen bisnis dan brand baik lokal, multinasional, global brand, ia pun mantap memulai bisnis Bussines consultant DreamLab dan Bekal dari Ibu.

Meski baru berumur satu tahun, namun Bekal dari Ibu memiliki dasar yang kuat dengan dibantu dua orang teman dan satu sepupunya yaitu Nia, Pingkan dan Michael. Bisnis yang hanya bermula dari niat membantu sang ibu ini menjadi berkembang dan kini memiliki dua buah toko.

“Awalnya bisnis ini tidak sengaja. Setelah Papa meninggal tahun 2013, kami ingin Mama ada kegiatan lagi. Saat itu ada saudara juga yang meninggal.  Kami berinisiatif membuat sesuatu agar mereka berdua ada kegiatan. Brand Bekal dari Ibu sudah keluar sejak November 2013, tapi hanya sebatas brand untuk kotak kue pada saat acara 40 harinya Papa. Ternyata banyak yang suka, akhirnya Maret 2014 kami baru pasarkan ke umum,” jelas wanita yang pernah menjabat sebagai Product Manager di L’Oreal Indonesia ini.

Sebelum Bekal dari Ibu keluar ke pasaran, wanita yang akrab dipanggil Pungky ini, melakukan berbagai test market terlebih dahulu. Dimulai dari menggunakan brand pada 40 hari peringatan ayahnya, lalu menjualnya sebatas inner circle, media sosial seperti instagram, ikut berbagai festival, lalu akhirnya membuka toko. Test market yang melakukan penjualan tanpa perantara media sosial dilakukan pada Mei 2014.

Penjualan dilakukan dengan menggunakan gerobak di entrepreneur festival di Kuningan city, lalu mulai aktif mengikuti Sunday Food Market di Cilandak Town Square, setiap minggu selama dua bulan berturut turut.

Respon masyarakat yang positif membuatnya serius dalam merancang perncanaan bisnis, karena penjualan melalui media sosial tak bisa dilakukan terus menerus, hingga akhirnya dibuka dua toko. Ia pun mulai merancang konsep katalogue, jenis kue yang dijual, hingga menggunakan berbagai jasa professional seperti fotografer untuk menjalankan bisnisnya. Kini Bekal dari Ibu mampu menjual 1.000 hingga 2.000 buah kue perharinya, dengan perkiraan omset di atas Rp200 juta.

Suka duka berbisnis pun ia rasakan bersama teman-temannya, mulai dari membuat sendiri semua kue, mengantarnya sendiri, hingga akhirnya menggandeng 5 home industry untuk membantu produksi Bekal dari Ibu, proses ini pun menurutnya sangat tidak mudah. Ia pun menemukan bahwa banyak home industry terutama di daerah, tidak terlalu ambil pusing dengan bisnis mereka. Pola pikir mereka adalah menjual produk tanpa memikirkan pengembangan bisnis.

Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri. “Menggandeng home industry berarti mengajari mereka untuk serius dalam berbisnis, dan tidak lagi merasa cukup dengan produksi mereka. Mengajari mereka untuk disiplin, sayangnya mereka yang merasa cepat puas dengan penjualan 100 buah sehari akan sulit bila digenjot memenuhi kebutuhan Bekal dari Ibu yang mencapai 200 perhari. Itu hanya untuk brand kami saja, belum ditambah market mereka sendiri. Jadinya seleksi alam, bagi yang ingin maju akan bertahan namun tidak sedikit juga yang berguguran”.

Pemberdayaan home industry untuk saat ini berfokus di wilayah Jakarta Timur dan Selatan, sesuai dengan pasar mereka yang kebanyakan dikuasai di daerah pasar Jakarta Selatan dan Pusat. Ia sendiri sudah melakukan berbagai survei dan mencari pasar yang kira-kira potensial bagi perkembangan bisnisnya. Bekal dari Ibu melayani seluruh daerah Jakarta hingga Depok dan Bekasi namun 90% pemesan berasal dari wilayah perkantoran di Jakarta Pusat, dan perumahan di Jakarta Selatan.

Saat ini penjualan Bekal dari Ibu kebanyakan dikuasai pasar perkantoran untuk training, meeting, dan berbagai keperluan kantor lainnya. Pada tahun 2015 pun ia berencana membuka 2 cabang baru di mall dan 8 cabang di perkantoran. Hal ini dikarenakan kebutuhan pasar yang meningkat khususnya didaerah perkantoran. Selain itu pada edisi khusus seperti lebaran dan natal ia juga membuka catering kue yang menggunakan resep khusus dari omanya, untuk memberikan rasa kue khas jaman dulu. Agar cita rasanya terjaga ia mengaku tak mengganti bahan baku dan tetap menggunakan bahan baku asli yang digunakan dalam resep.

Ia pun mengaku sempat terpikirkan untuk menambah varian makanan asing dalam Bekal dari Ibu, Hal ini karena banyaknya makanan Belanda yang menjadi penganan favorit orang jaman dulu seperti kue spekulas. Saat ini untuk produksi kue andalan seperti kue talam, pisang caramel, pisang oreo, pisang skippi dan berbagai varian pisang lainnya diproduksi sendiri. Sementara beberapa kue lainnya menggandeng home industry. Sebelum menggandeng home industry ia mengaku terjun langsung untuk mencicipi dan mencari sendiri home industry yang menawarkan rasa dan kualitas makan terbaik. Hal ini dilakukan untuk menjaga cita rasa Bekal dari Ibu. (EVA)

http://swa.co.id/entrepreneur/bisnis-jajanan-pasar-menembus-kota-besar

Comment